Laman

Selasa, 24 September 2013

BlackBerry ibarat Negara Gagal

mashable.com
Ilustrasi
KOMPAS.com — Masa depan BlackBerry masih dirundung awan kelabu. Pengumuman dipertimbangkannya opsi menjual perusahaan pun tak membantu memperbaiki keadaan. Apakah perusahaan ini akan segera "tamat"?

John Hermann dari BuzzFeed menyebutkan bahwa keadaan pelopor smartphone tersebut kini mirip dengan sebuah "negara gagal" atau failed state, ketika kekacauan terjadi di mana-mana dan tak ada tujuan jelas dalam melangkah ke depan.

Sementara itu, pimpinan perusahan ini di masa krisis, CEO Thorsten Heins, bakal mendapat guyuran uang apabila ditendang ke luar oleh pemilik baru, walaupun dia sendiri sejauh ini boleh dibilang gagal membalikkan peruntungan BlackBerry.

Hal serupa sebelumnya sudah dialami oleh duet pendiri sekaligus CEO terdahulu BlackBerry, Jim Balisillie dan Mike Lazaridis, yang kini termasuk dalam deretan orang-orang terkaya di Kanada.

Ekonomi BlackBerry disebut Hermann telah menunjukkan tanda-tanda ketidakstablian dan tidak adanya kendali. Dia mencontohkan fakta yang terungkap baru-baru ini bahwa sepertiga atau sekitar 45.000 aplikasi yang beredar di BlackBerry App World ternyata dibuat oleh satu pengembang untuk membanjiri toko aplikasi tersebut dengan sebanyak mungkin koleksi program.

Ini, sebutnya lagi, bukanlah tanda-tanda marketplace yang sehat dan teratur. Kini segala macam aplikasi "jadi-jadian" sudah telanjur mencemari BlackBerry App World.

Aplikasi-aplikasi itu semisal "Windows Live Messenger" untuk layanan yang sudah dimatikan oleh Microsoft, "Followgram" yang hanya mampu melihat feed Instagram tapi tak bisa mengepos foto, dan "4G Signal Booster Advanced", sebuah aplikasi berbayar yang klaim di judulnya diragukan.

Hanya segelintir produsen aplikasi besar yang hadir di sini, itu pun tak mencakup semua yang populer. Inilah salah satu gejala lagi menyangkut tanda-tanda negara gagal: ketidakmampuan berinteraksi dengan negara (dalam hal ini produsen hardware/software besar) lain sebagai bagian dari sebuah komunitas internasional.

Hubungan BlackBerry dengan Instagram misalnya, sudah jatuh entah sampai ke mana. Dengan rencana penjualan perusahaan, para pengembang ternama boleh jadi makin kehilangan selera. Buat apa repot-repot membangun untuk platform yang tidak punya masa depan jelas?

BlackBerry tak punya banyak pilihan. Divisi hardware senilai 800 juta dollar AS yang menjadi sumber pemasukan terbesar tak akan dipandang berharga oleh pelaku industri lain yang mungkin membelinya. Layanan BBM pun kabarnya hendak dipisahkan menjadi perusahaan sendiri untuk mendongkrak nilai.

"Negara" BlackBerry masih dipadati "penduduk", sekira 72 juta orang masih tergabung dalam basis pelanggan. Namun, tak lama lagi mungkin mereka harus mencari tempat bernaung yang baru.

Ditawar Rp 54 Triliun, BlackBerry Masih Bisa Nego

Ditawar Rp 54 Triliun, BlackBerry Masih Bisa Nego

Aditya Panji/KompasTekno
BlackBerry
KOMPAS.com — BlackBerry telah menandatangani letter of intent (perjanjian tentatif) untuk diakuisisi oleh sebuah konsorsium yang dipimpin oleh Fairfax Financial Holdings, yang tak lain adalah pemegang saham terbesar BlackBerry, Senin (23/9/2013).

Meski demikian, BlackBerry masih punya waktu hingga 4 November 2013 untuk berpikir dan bernegosiasi dengan pihak lain yang mengajukan tawaran berbeda.

Pihak lain yang dikabarkan akan mengajukan penawaran terhadap BlackBerry adalah Mike Lazaridis, yang tak lain adalah pendiri dan mantan CEO BlackBerry. The New York Times melaporkan, Lazaridis mengulurkan tangan kepada Blackstone Group dan Carlyle Group untuk menyusun tawaran tersebut.

Dalam siaran pers, konsorsium yang dipimpin Fairfax menjelaskan akan mengakuisisi BlackBerry senilai 4,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 54 triliun. Para pemegang saham BlackBerry ditawarkan 9 dollar AS secara tunai untuk setiap lembar saham yang mereka miliki.

Konsorsium akan mengakuisisi uang tunai atas seluruh saham yang beredar di BlackBerry, tetapi tidak termasuk saham yang dimiliki Fairfax. Konsorsium akan mencari pendanaan dari BofA Merrill Lynch dan BMO Capital Markets.

Fairfax, yang memiliki sekitar 10 persen saham BlackBerry, merupakan perusahaan finansial asal Kanada yang bergerak di bidang asuransi, properti, investasi, dan sebagainya. Perusahaan ini didirikan dan dipimpin oleh Prem Watsa.

"Kami dapat memberikan nilai langsung kepada pemegang saham, sementara kita akan melanjutkan eksekusi strategi jangka panjang dalam bentuk perusahaan swasta yang fokus pada bisnis solusi korporasi yang unggul dan aman kepada pelanggan BlackBerry di seluruh dunia," tulis Prem Watsa dalam sebuah pernyataan.

Keluar dari bursa

Jika BlackBerry dan pemegang saham lainnya menyetujui tawaran dari konsorsium yang dipimpin Fairfax, maka BlackBerry akan menjadi perusahaan privat, di mana mereka tidak akan terdaftar di lantai bursa.

Analis Colin Gillis dari BGC Partners berpendapat, BlackBerry memang perlu menjadi perusahaan privat. "Mereka akan mampu restrukturisasi di luar perhatian publik, mengambil rencana jangka panjang, dan menjalankan perusahaan," ujarnya, seperti dikutip dari Reuters.

BlackBerry menjadi pelopor pager e-mail pertama dan penyedia ponsel yang mampu menerima pesan email secara real-time. Ponsel BlackBerry banyak digunakan oleh kalangan pemerintah, pebisnis, dan pengacara karena mampu memberi layanan komunikasi secara aman.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, BlackBerry kehilangan pangsa pasar ponsel pintar, yang kini dikuasai oleh Samsung dan Apple.

Pada Jumat (20/9/2013) lalu, BlackBerry melaporkan hanya menjual 3,7 juta ponsel pada kuartal kedua 2013. Sementara Apple mampu menjual 9 juta unit iPhone 5S dan iPhone 5C dalam tiga hari setelah penjualan perdana.

Perusahaan yang berdiri pada 1984 ini juga harus melakukan pemutusan hubungan kerja untuk mengirit biaya operasional. Dalam waktu dekat BlackBerry akan memecat 4.500 karyawan di seluruh dunia.

BlackBerry melaporkan mengalami kerugian hampir 1 miliar dollar AS pada kuartal kedua 2013, serta lesunya penjualan ponsel BlackBerry Z10. Pendapatan pada kuartal kedua hanya 1,6 miliar dollar AS, yang jauh dari perkiraan sebelumnya sebesar 3 miliar dollar AS.